Edan..! Para PSK ini Atas dukungan Suami

Edan..! Para PSK ini Atas dukungan SuamiSEMARANG – Selain kawasan Jalan Pandanaran yang terkenal dengan “gadis” bermotor, ada ruas jalan lain di Kota Semarang yang juga dikenal sebagai kawasan prostitusi
pinggir jalan, antara lain, di Jalan Imam Bonjol dan Jalan Tanjung, dekat dengan kawasan Stasiun Poncol.

Berbeda dengan Jalan Pandanaran yang tidak terlihat vulgar, di kawasan ini, setiap yang lewat akan melihat para


perempuan malam menjajakan diri di pinggir jalan. Para pekerja seks komersial (PSK) itu tampak berusaha berpakaian seksi sambil mejeng di pinggir-pinggir jalan.

Dulu, para perempuan yang terlihat sudah
dewasa dengan umur antara 20 hingga lebih dari 30 tahun tersebut biasa menjajakan diri dengan berdiri di pinggir jalan. Mereka akan menawarkan diri pada setiap lelaki yang lewat. Sekarang, sejak beberapa tahun terakhir,
mereka tampak berbeda karena mulai mengendarai sepeda motor, yang sebagian besar berjenis
matic. PSK di sepanjang jalan ini mangkal dengan cara duduk di atas motor.

Dengan menggunakan
sepeda motor, mereka akan lebih mudah untuk lari dari kejaran petugas saat razia. Sebab, sebelum menggunakan sepeda motor, mereka sering terkena razia dari para petugas. Sayangnya, meski razia dilakukan rutin, tempat ini
juga tidak berubah sejak beberapa tahun lalu, bahkan semakin ramai dengan puluhan PSK.

Di pinggir-pinggir jalan, juga terdapat banyak warung yang terkadang digunakan para PSK untuk bertransaksi sebelum ke kamar
hotel.

Namun, ada pemandangan lain di salah satu sudut jalan tersebut, ada sejumlah lelaki bergerombol yang tampak asyik ngobrol. Mereka bukanlah pelanggan para PSK tersebut. Ternyata sebagian besar dari mereka
merupakan suami atau pasangan dari para PSK, baik pasangan yang sah secara hukum, pasangan karena nikah siri, maupun pasangan kumpul kebo.

Para lelaki ini tampak mengawasi para perempuannya yang tengah
mencari nafkah dengan menjual diri. Selain itu, mereka juga terkadang mencarikan pelanggan bagi pasangannya. Parahnya, jika terlihat “tidak laku”, PSK itu bisa menjadi sasaran kemarahan dari suaminya.

Tidak segan-
segan para suami ini menghajar istri mereka di depan umum.  “Dulu pernah ada yang dihajar di depan umum karena sampai malam tidak laku, tetapi ya nggak ada yang berani melerai, itu urusan mereka. Sudah
jadi pemandangan umum di sini,” ungkap salah seorang pedagang nasi di kawasan itu.

Sebagian besar PSK di kawasan ini sudah memiliki anak. Mereka memang bekerja untuk menghidupi keluarga dan menyekolahkan
anak-anaknya. Mereka kebanyakan berasal dari beberapa wilayah di sekitar Kota Semarang.

Para “kupu-kupu malam” tersebut memang biasa mengenakan baju ketat dan seksi, tetapi untuk badan dan wajah bisa
tergolong pas-pasan sehingga tarif PSK di kawasan ini pun lebih murah dibandingkan dengan kawasan Jalan Pandanaran. Mereka bisa memberikan pelayanan dengan tarif di bawah Rp 200.000 untuk setiap pelanggan, sudah
termasuk sewa kamar di hotel-hotel kecil di kawasan itu.

[Sumber]

Posted on 3 November 2012, in Gaya Hidup and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: