Susah Jodoh? Coba Jajal Sekolah Kencan

Berbicara soal cinta, pria dan wanita memiliki pandangan yang berbeda. Banyak yang bilang, kehidupan modern telah mengubah cara pandang pria dan wanita dalam melihat hubungan? Atau, kehidupan modern tetap tak melunturkan tradisi dalam asmara

Sebuah survei yang dilakukan situs Askmen dan Cosmopolitan pernah menemukan, ada pergeseran terhadap hubungan antara pria dan wanita termasuk kencan, perceraian, pandangan jenis kelamin terhadap perceraian dan sebagainya.

Sebanyak 85 persen pria mengklaim mereka tidak akan keberatan memiliki pasangan yang memiliki penghasilan lebih tinggi. Namun sebagian besar pria yang disurvei (59%) mengatakan bahwa mereka masih berpikir membayar biaya kencan merupakan kewajiban mereka hingga hubungan terjalin.

Psikolog, Efnie Indriani dari Universitas Kristen Maranatha Bandung,  juga memiliki pandangan bahwa pria dan wanita memang memiliki banyak perbedaan. Salah satunya, pria lebih condong memiliki pandangan single perspective, dimana kebanyakan pria berpikir tentang logika dan mereka memiliki pandangan tentang satu hal.

“Sementara wanita, rata-rata memiliki pandangan multi perspective dimana perasaan ikut berperan,” katanya.

Perbedaan-perbedaan inilah yang seringkali membuat pria dan wanita memiliki banyak pertimbangan untuk menemukan pasangan. Hingga akhirnya, tak sedikit dari mereka membutuhkan bantuan untuk segera mendapatkan solusi agar bisa menemukan pasangan. Salah satunya, dengan mengikuti sekolah kencan.

Tren Sekolah Kencan

Banyak orang berpandangan, mengikuti sekolah cinta atau sekolah kencan adalah suatu lelucon. Namun kini, di banyak negara dari Singapura, Amerika hingga Indonesia, ada sekolah khusus yang bisa menuntun pria maupun wanita belajar soal cinta.

Di Singapura , sebuah sekolah khusus dibuka bagi pria yang ingin tampil maksimal di depan wanita maupun saat kencan. Pendiri sekolah Akademi Kencan Aura ini bernama Dr David Tian. Ia mengajarkan pria untuk memahami dan memperlakukan wanita sesuai yang diharapkan kaum Hawa.

Pria 34 tahun yang pernah menikah dan bercerai ini datang ke Singapura pada 2008. Dia mengajar mengajar filsafat di Universitas Nasional Singapura, sebelum akhirnya fokus pada bisnisnya. Dirinya mengklaim bisnisnya merupakan kelas kencan pertama bagi pria di Singapura.

Di kelas ‘dasar’ misalnya, siswa akan diajari bagaimana cara berkenalan, menggoda dan mengeluarkan humor di depan wanita. Di pelajaran tingkat lebih tinggi, mereka diberitahu bagaimana memahami wanita dan memproyeksi getaran seksual. Selama sesi kursus, para siswa juga berbagi pengalaman buruk selama menjalin hubungan.

Seperti dikutip dari Strait Times, akademi ini berdiri awal tahun 2011. Rata-rata siswanya berusia 20-38 tahun. Biayanya mencapai S$4.500 atau setara dengan Rp35 juta.  Di Los Angeles, Amerika,  Renee Piane dan suaminya, Joe Renee Piane, juga terkenal sebagai pembicara inspirasional dan pakar kencan handal yang telah bekerja di seluruh negeri membantu pria dan wanita lajang menemukan kehidupan nyata, serta memberi solusi untuk menemukan kebahagiaan.

Pasangan ini membuat situs kencan yang diberi nama Singles Advice, yang mengajarkan bagaimana cara berkencan atau menawarkan tips tentang cara untuk hidup bahagia dan merasa puas hanya dengan satu pasangan. Melalui situsnya, sebagai terapis hubungan dan pembicara publik, Renee mengklaim telah meningkatkan kehidupan cinta dan karier ribuan pria dan wanita di atas 17.

Selama 17 tahun kariernya sebagai pelatih kencan profesional, Renee telah muncul di berbagai jaringan televisi  ternama, seperti CNN , NBC, ABC, The Today Show, dan Lifetime. Dia juga telah pernah masuk dalam The New York Times, The Los Angeles Times, dan Wall Street Journal.

“Saya di sini untuk menginspirasi hati untuk tetap terbuka, dan menghilangkan kesepian jiwa,” ujar Renee.

Indonesia Juga Punya Sekolah Kencan

Tak mau kalah dengan di luar negeri,  di Indonesia juga ada sekolah kencan  yang awalnya khusus mengajarkan pria bagaimana membina dan mempertahankan hubungan. Sekolah tersebut didirikan oleh tiga pemuda, yakni Jet Veetlev, Kei Savourie dan Lex dePraxis.

Selama sepuluh tahun, ketiganya melakukan riset pribadi dan eksperimen dalam memadukan berbagai bidang keilmuwan hingga akhirnya berhasil menciptakan pendekatan dan pemahaman baru tentang dinamika sosial romansa. Dengan kata lain, melihat cinta bukan sekadar perasaan saja, tapi cinta itu memiliki sistem.

Berbekal dari ilmu yang mereka punya, pada 2006 lalu, lahirlah sebuah perusahaan konsultasi bernama Hitman System tentang hubungan cinta, yang secara profesional mengedukasi pria Indonesia tentang gaya hidup dan manajemen cinta yang modern, sehat, dan bahagia.  

Banyak alasan yang membuat mereka tertarik mendirikan sekolah ini untuk kaum Adam. Terutama dulu, banyak pandangan yang menganggap, bahwa pria adalah makhluk yang kasar, suka menindas wanita bahkan banyak yang bilang, pria suka dan memiliki bakat selingkuh.

Bagi tiga pendiri sekolah ini, cinta memiliki pola. Hal itulah yang diajarkan agar pria khususnya tidak salah menerapkan cinta. Bagi mereka yang lajang rata-rata belajar bagaimana mencari pasangan. Sementara pria beristri banyak mendaftarkan diri untuk melakukan konseling soal rumah tangga.

“Banyak juga yang mendaftarkan diri, mencari jodoh, ada yang ingin jadi playboy. Untuk beberapa bulan ke depan mereka boleh narsis karena punya ilmu baru yang mampu meluluhkan wanita, tapi ada waktunya untuk mengerem, ” kata salah seorang pendiri, Lex dePraxis pada VIVAlife.

Lex menjelaskan  bahwa sekolah yang menarik peserta berusia 19-43 tahun ini, memang tidak ditujukan untuk semua orang. Hanya orang-orang yang kesulitan mengikuti perkembangan zaman saja, yang cocok menjalani serangkaian program pelatihan di sekolah ini.

Meski banyak yang berhasil mendapatkan pasangan, bukan berarti tidak ada yang gagal. Sebanyak 25 persen, mungkin ada yang merasa tidak mendapatkan hasil bahkan tidak mengabarkan soal kemajuan dari program pelatihan yang mereka ikuti. Namun, lanjut Lex, rata-rata mereka yang tidak memperoleh hasilnya, memang karena tujuan utamanya bukan untuk mencari pasangan.

Sekolah kencan ini pun menerapkan program kerja sebagai praktik yang harus dijalani usai mendapatkan pelatihan. Mereka, biasanya diberi waktu selama 30 hari untuk membuktikan, bahwa mereka bisa mendapatkan pasangan.

Didorong Faktor Usia

Psikolog Efnie Indrianie  memiliki pandangan positif soal adanya sekolah kencan. Ia tidak beranggapan bahwa adanya sekolah kencan bisa merebut lahan profesi seorang psikolog.

“Mereka bisa praktik dan belajar langsung. Kalau mereka ke psikolog tentu mereka hanya akan mendapatkan nasihat, dibuka paradigmanya, dan tidak sampai mendalam menerima pengarahan,” katanya Efnie.

Di sekolah kencan, kata Efnie, mereka bisa mengikuti berbagai pelatihan. Dengan mengikuti itu, mereka akan memiliki keterampilan. Dan menurutnya, adanya sekolah kencan tidak mengambil lahan profesi seorang psikolog, justru sekolah kencan memberikan sinergi.

Alasan pria dan wanita sendiri pergi ke sekolah kencan menurut Efnie juga macam-macam, tentunya, mereka memiliki tujuan dan ingin mempelajari, bagaimana memulai dan membina hubungan.

Mereka  para pria, kebanyakan ingin tahu, apa yang salah dari dirinya. Dan pada umumnya, mereka yang mendaftar memang karena memiliki masalah. Namun, tak sedikit pula yang mendaftar hanya ingin memperbaiki diri, agar tak gagal membina hubungan. Sementara rata-rata wanita, tertarik mengikuti program pelatihan di sekolah kencan, karena memang ada faktor dorongan dari luar.

“Apalagi mereka yang tinggal di urban, mereka rata-rata ikut karena dikejar faktor usia, ditambah lagi sering  ditanya kapan menikah? Itu biasanya yang mendorong wanita,” ucapnya.

Baca Artikel Menarik Lainnya:

Posted on 13 Februari 2013, in Dunia, Gaya Hidup. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: