Manusia Purba Tidak Berjalan Tegak?

Sebuah studi menemukan nenek moyang manusia kemungkinan tidak berjalan dengan tegak, seperti manusia modern saat ini.

Dengan meneliti kedalaman jejak kaki manusia, ilmuwan mencermati korelasi kedalaman tumit pada jejak kaki manusia purba dengan tekanan kaki saat menginjak Bumi.

Penelitian yang diterbitkan Journal of Royal Society Interface, Selasa 19 Maret 2013, mengungkapkan bahwa tumit cenderung membuat lekukan yang lebih dalam, bahkan saat dengan jumlah tekanan yang relatif sama.

“Tapi, kami tidak harus selalu melihatnya dari bentuk jejak kaki, lantas bisa mencerminkan cara makhluk hidup berjalan,” kata rekan penulis studi Karl Bates, seorang peneliti biomekanika di University of Liverpool, Inggris dilansir Live Science, 19 Maret 2013.

Dengan demikian, Bates menambahkan, beberapa kesimpulan tentang cara bagaimana nenek moyang manusia berjalan tegak perlu dipikirkan kembali.

Model komputer

Jejak kaki fosil menjadi kunci untuk mengungkapkan bagaimana hewan purba dan manusia purba bergerak. Misalnya, peneliti telah menganalisis jejak manusia purba berkaki dua yang berusia 3,6 juta tahun lalu, Australopithecus afarensis, di Laetoli, Tanzania. Tapi, pengujiannya terbilang sulit.

Untuk itu, ilmuwan menciptakan model komputer yang menyimulasikan tekanan dari berbagai ukuran kaki dengan berbagai tekanan jenis tanah. Selanjutnya, peneliti meminta 10 orang untuk berjalan di sepanjang pantai Brighton, di pantai selatan Inggris dan mengukur jejak kaki mereka.

Orang-orang yang sama kemudian diminta berjalan pada alat pengukur jejak (treadmill), dan peneliti mengorelasikan kedalaman jejak dengan tekanan saat berjalan.

Kedua metode tersebut menemukan kecenderungan yang sama, yaitu bagian yang berbeda kaki menciptakan lekukan ukuran berbeda, bahkan saat menginjak tanah dengan jumlah tekanan yang sama.

“Tumit merupakan pelekuk yang lebih efektif daripada kaki depan dan jari kaki,” kata Bates. Sehingga, lekukan tumit yang lebih dalam tidak menandai apakah sesorang berjalan bungkuk atau tidak.

Namun, Kristiaan D’Août, seorang peneliti biomekanika di University of Antwerp, yang tidak terlibat dalam studi ini mengatakan, penelitian itu mengesankan karena menggabungkan model komputerisasi dan pendekatan eksperimental.

“Mereka menggunakan dua teknik yang sama sekali berbeda, tapi keduanya menghasilkan hasil keseluruhan yang agak mirip,” kata D’Août.

Temuan ini menunjukkan ada hubungan yang jauh lebih rumit antara tekanan kaki dan kedalaman jejak, serta mempertimbangkan kembali asumsi gaya berjalan nenek moyang manusia.

Baca Artikel Menarik Lainnya:

Posted on 25 Maret 2013, in Dunia. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: