Aneh, Wanita Ini Justru Ingin Jadi Orang Cacat

Aneh, Wanita Ini Justru Ingin Jadi Orang CacatYang kita tahu selama ini orang berlomba-lomab ingin tampil lebih menarik, lebih samporna, lebih istimewa, untuk di tunjukkan kepada dunia, siapa yang tak ingin tampil menarik, begitulah sifat dan prilaku manusia yang kita ketahui selama ini, namun tahukah anda, kalau ternyata ada sosok wanita yang justru berkeinginan menjadi kebalikannya, ia justru ingin hidup cacat, bahkan ke inginannya ini jadi satu cita-citanya sejak lama, ia ingin hidup cacat dan berharap selama hidupnya hanya bisa duduk di kursi roda,

Wanita bernama Chloe Jennings-White ini tak jarang melukai diri sendiri, dengan harapan tibuhnya jadi cacat agar bisa duduk di kursi roda, sepanjang hari, dan itu di lakukannya sejak Chloe Jennings-White masih kecil,

Kini telah jadi wanita dewasa dan masih tetap memiliki cita-cita yang sama, Chloe Jennings-White juga pernah menemui seorang dokter di luar negeri untuk di minta membantunya menjadi cacat seumur hidup, permintaan yang di ajukan oleh Chloe Jennings-White ke dokter adalah pemotongan saraf siatik dan femoralis, hanya sayangnya ternyata untuk melakukan tindakan aneh ini, membutuhkan biaya yang sangat mahal, hingga kandaslah harapan wanita ini.

“Biayanya sangat malah, saya tak memliki uang sebanyak itu, namun jika saya mampu, saya akan melakukannya dangan senang hati dan tanpa rasa menyesal,” ungkap Chloe Jennings-White, mengacu pada dokter yang mungkin bisa membantunya menjadi cacat.

Chloe 58 tahun berasal Salt Lake City, Utah, menderita kondisi langka yang disebut Body Integrity Identity Disorder (BIID). Penderitanya tidak menerima salah satu anggota tubuh mereka sendiri atau anggota badan lainnya dan berusaha untuk mengamputasinya atau menjadi lumpuh. Beberapa ahli percaya hal itu disebabkan oleh kesalahan neurologis, di mana sistem pemetaan otak tidak dapat melihat bagian tubuh tertentu.

Lulusan Cambridge ini meyakini kedua kakinya bukan miliknya dan mengimpikan menjadi lumpuh dari pinggang ke bawah.

“Sesuatu di otakku mengatakan kakiku tidak seharusnya ada di sana,” katanya. “Memiliki sensasi apapun di dalamnya hanya menimbulkan perasaan bersalah.”

Selama bertahun-tahun ia membalut dirinya diam-diam. Kemana-mana, ia menggunakan alat bantu jalan. Sejak 2010, ia bahkan sepenuhnya duduk di atas kursi roda. Sekarang setelah kedoknya terbongkar, intoleransi dihadapinya, mulai dari penghinaan hingga ancaman online.

Chloe pertama kali menyadari dia berbeda pada usia empat tahun, setelah mengunjungi Bibi Olive, yang menggunakan penyangga kaki setelah kecelakaan sepeda. “Aku ingin seperti dia,” katanya. “Aku bertanya-tanya mengapa aku tidak dilahirkan membutuhkan alat itu dan merasa ada sesuatu yang salah dengan karena aku tidak memakainya.”

Pada usia sembilan, Chloe mengayuh sepedanya dari undak-undakan tertinggi di Hampstead Heath, London utara, dan jatuh dengan cedera leher. “Aku ingin patah kaki, tapi yang terjadi malah patah leher,” ujarnya mengenang.

Di luar itu, Chloe kerap diam-diam bertingkah seolah tak memiliki kaki. Ia pun senang melakukan olahraga berisiko dan memanjat pohon dengan harapan bisa menyakiti kakinya.

Cita-citanya menjadi cacat sedikit tercapai ketika ia terjatuh saat melakukan olahraga ski dan mengalami retak di tulang punggungnya. Ini menjadi alasan dia mengenakan tongkat penyangga setelahnya. Ia juga pernah mengalami kecelakaan mobil yang menyebabkan gegar otak.

Di dunia, pendrita BIID seperti Chloe ada, namun sangat jarang. BIID terjadi ketika seseorang melihat dirinya tidak cocok bentuk fisik mereka yang sebenarnya.

Umumnya, penderitanya ingin mengamputasi anggota tubuhnya. Dalam kebanyakan kasus, mereka menikmati menjadi orang sakit. Banyak psikolog dan ahli saraf telah mencoba untuk memahami apa akar penyebab kondisi ini.

Teorinya, BIID terjadi ketika otak tidak mampu memberikan rencana akurat untuk tubuh. Beberapa ahli percaya penyebab terkait masalah psikologis.

Satu teori adalah bahwa orang dengan BIID mungkin telah melihat orang yang diamputasi pada usia lebih dini dan gambar ini telah menggantikan pikiran mereka sendiri tentang apa yang ‘ideal’ bagi dirinya. Dalam kasus yang parah, orang dengan BIID dapat membahayakan diri sendiri.

Chloe kini sepenuhnya menyadari penyakitnya. Ia menekankan pentingnya untuk meningkatkan kesadaran tentang kondisi itu. Kini pengajar riset di Universitas Cambridge ini mulai menulis untuk kelompok dukungan BIID, Transabled.

Baca Artikel Menarik Lainnya:

Posted on 17 Juli 2013, in Unik and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. baru dengar adanya penyakit seperti ini. bisa ya seperti itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: