Riwayat Analis Keuangan RI Terjebak Jadi Budak Seks di Amerika

Riwayat Analis Keuangan RI Terjebak Jadi Budak Seks di AmerikaSelama ini yang selalu menjadi sasaran korban perbudakan lebih mengarah kepada kaum lemah, orang-orang kurang mampu, seseorang yang terjebak dalam kekangan tindak kejahatan, dipaksa menjalankan pekerjaan berat siang malam, di siksa dan salah-salah bisa berujung pembunuhan.

Budaya memperbudak bukanlah hal baru, bahkan sudah ada sejak zaman rasul, di indonesia sendiri pernah terjadi perbudakan di masa penjajahan jepang, yakni “Romusha” dan korbannya semua dari kalangan rakyat biasa.

Peristiwa lain tak berperikemanusiaan memperbudak seorang wanita untuk dipaksa melayani nafsu bejat, inilah yang pernah terjadi pada diri Shandra Woworuntu, ia adalah seorang wanita berpendidikan tinggi, yang juga pernah menjadi analis keuangan.

Tetapi dirianya justru pernah terjebak menjadi budak seks di Amerika Serikat (AS), beberapa tahun silam.

Pengalaman mengerikan yang pernah dialami Shandra, memberikan satu hikmah tersendiri, selamat dari perbudakan seks, kini Shandra mengalami perubahan drastis pada dirinya, yaitu berjuang membela para kaum perempuan dari berbagai tindakan keji dan tindakan lain yang tak di inginkan.

Sosok Shandra, berkat perjuangannya kini menjadi daya tarik perhatian media massa internasional. Bahkan Jurnalis asal kantor berita AFP, pernah mewawancarai Shandra terkait prostitusi dan perbudakan seks.

Pengalaman pahit Shandar, dari apa yang di ceritakan selama terjebak menjadi budak seks menyebar ke media-media manca negara.

Pada laman lembaga Survivors of Slavery, lembaga nirlaba tempat dia kini jadi pegiat, Shandra bercerita cukup panjang lebar. Dia tidak menyangka menjadi korban perbudakan seks di AS saat usianya baru menginjak 25 tahun.

Awal kisah ini, pada tahun 1997-1998 indonesia dilanda krisis berat, Shandra sendiri terlibat serangan krisis pada tahun saat itu, padahal sebelumnya Shandra lulus dari sebuah universitas usai menempuh jurusan Keuangan dan Manajemen Perbankan, Shandra mendapat pekerjaan elit di Korea Exchange Bank di Jakarta dengan spesialisasi perdagangan pasar uang.

Sebagai analis keuangan yang brilian, tentu Shandra menikmati karirnya itu dan di sela-sela kesibukannya juga aktif sebagai pegiat HAM dengan memperjuangkan hak-hak kaum buruh.

Namun, akibat mendapat serangan krisis moneter, dampak buruknya merambah ke konflik sosial-politik, dan Shandra sendiri harus rela kehilang pekerjaannya.

Pada hari-hari berikutnya Shandra melihat satu iklan lowongan kerja di AS, dalam iklan tersebut menawarkan pekerjaan di posisi suatu industri perhotelan di Kota Chicago dalam masa enam bulan.

Tertarik dengan lowongan pekerjaan di Amerika, Shandra ajukan diri melamar pekerjaan tersebut dan Shandra pun berangkat ke Amerika.

Tapi ketika Shandra tiba di Bandara John F. Kennedy di Kota New York, di situ Shandra mendapat sambutan yang sungguh tak pernah kefikiran, kaget bukan main, betapa tidak pada kenyataanya Shandra justru terjebak ke dalam suatu sindikat perdagangan manusia. Shandra di langsung menyambutnya secara brutal dan biadab.

Turut pengakuan Shandra mengenai riwayat getir itu, saat keluar dari bandara, seorang agen yang menunggu Shandra langsung menggiringnya ke dalam sebuah van. Paspor Shandra dan identitas lainnya di sita oleh pihak agen.

Tak mengerti apa yang dilakukannya, Shandra mencoba protes, tapi Shandra malah mendapat todongan senjata api di kepalanya. Kini baru benar-benar mengerti dan menyadari, bahwa diri Shandra telah terjebak masuk perangkap perdangan manusia.

Nasib buruk siapa yang menyangka, kini Shandra hanya bisa berharap dan berdo’a agar bisa keluar dari sindikat perdangan manusia tersebut,

Kini Shandra digiring masuk ke dalam suatu jaringan perbudakan seks bawah tanah yang tidak dia sangka-sangka sebelumnya.

Sosok Shandra yang kini tak berdaya dipaksa harus melayani nafsu seks dari para pria hidung belang selama 24 jam di berbagai rumah bordil di Kota New York dan Connecticut.

Dalam keadaan tak berdaya karena Shandra berada dibawah tekanan orang-orang jahat, ia terus berusaha cari selamat, dan usaha terakhinya Shandra berhasil melarikan diri, upaya melarikan diri, ketika di kamar mandi ada sebuah bangunan di distrik Brooklyn, New York, Shandra berhasil keluar melalui jendela.

Kini Shandra telah terbebas dari perangkap, hidup bebas diluaran, namun apa yang bisa diperbuat Shandra, ia tak memiliki apa-apa, hidup di negara asing jauh dari keluarga dan saudara, tidak punya tempat tinggal, Shandra pun jadi gelandangan.

Tak tahu berapa lama Shandra hidup menjadi tunawisma, namun pada akhirnya Shandra bertemu dengan seseorang yang kemudian orang itu membawa Shandra ke pihak hukum.

Di sana, Shandra dirujuk ke Safe Horizon, yaitu suatu lembaga di Kota New York khusus membantu orang-orang yang nasib mereka tidak menentu.

Setelah mendengar kisahnya, para pengurus lembaga itu berupaya membantu. Shandra tidak puas hanya bisa lolos dari orang-orang yang menjadikan dia budak seks. Dia ingin mengungkap sindikat kejahatan itu kepada aparat hukum, baik tingkat federal maupun lokal, karena masih ada perempuan-perempuan yang senasib dengan dia.

Maka, setelah bertahun-tahun memulihkan diri, Shandra pun tergerak untuk aktif membantu membebaskan para perempuan dari perdagangan manusia maupun perbudakan seks. Dia kini dikenal sebagai pembicara inspiratif dalam membangkitkan kepedulian dan mendidik masyarakat melalui pengalamannya yang menyeramkan.

Selain aktif di sejumlah lembaga advokasi anti perdagangan manusia, Shandra pun menjadi pelobi bagi para anggota Kongres di Washington DC. Pada 2011, Shandra mendirikan sebuah kelompok bantuan bernama “Voice of Hope” melalui Safe Horizon.

Untuk menjamin bahwa orang-orang di Indonesia tidak senasib dengan dia, Shandra pun membuat fanpage di Facebook bernama “Stop Human Trafficking di Indonesia.”

Lembaga The Alliance To End Slavery and Trafficking, seperti dikutip The Daily Star, memperkirakan bahwa sekitar 14.000 hingga 17.000 pria, wanita, dan anak-anak diselundupkan secara ilegal ke AS setiap tahun untuk dijadikan pekerja paksa maupun budak seks.

Dalam laporan soal penyelundupan manusia pada 2013, Departemen Luar Negeri AS pun mengakui bahwa negara mereka merupakan “sumber, transit, dan tujuan bagi pria, wanita, dan anak-anak – baik warga AS maupun orang asing – yang menjadi korban kerja paksa, jerat utang, layanan yang tidak sukarela maupun perdagangan seks.” Para korban kebanyakan dari Meksiko, Thailand, Filipina, Honduras, dan Indonesia.

Posted on 2 Februari 2014, in Dunia, Seks and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: